On Sabtu, 31 Mei 2014 0 komentar

MAKALAH ASWAJA
Cara Menghormati Nabi dan Keluarganya


Oleh :
Dyah Arinatus Safifah
Elva Rohmatin Neysa
Eva Nur Habibah
Fina Nahdiyya
Harum Dzati Fitriyah

XI IPA 3

Pembimbing :
M. Ishom Ahmadi










KEMENTERIAN AGAMA REPUBLIK INDONESIA
MAN TAMBAKBERAS JOMBANG


Cara Menghormati Nabi dan Keluarganya
Setiap muslim diperintahkan oleh Allah SWT untuk menghormati, mengagungkan, mencintai dan memuliakan Rasulullah SAW.
Hal-hal tersebut terdapat di dalam Al Qur’an, antara lain
1. Al Araf (QS 7:157)
فَالَّذِينَ آمَنُوا بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِي أُنْزِلَ مَعَهُ ۙ أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“… Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan bersamanya (Al Qur’an), mereka itulan orang-orang yang beruntung.”
Kata-kata  dalam ayat ini bermakna memuliakannya (Rasul SAW), maka salah satu cara untuk memuliakan Rasul SAW adalah mengadakan peringatan Maulid.
2. Ibrahim (QS14:5)
وَذَكِّرْهُمْ بِأَيَّامِ اللَّ
“… dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah …”
Di dalam ayat ini Allah memerintahkan Nabi Musa as untuk mengingatkan kaumnya dengan “hari-hari Allah”. Yang dimaksud dengan “hari-hari Allah” bukan berkenaan dengan zaman atau masa, tetapi yang dimaksud adalah mengingat peristiwa yang besar dimasa lalu, karena kata “hari-hari” menerangkan keadaan dari kejadian-kejadian tersebut, baik itu hari kenikmatan atau hari bencana.
Jika seseorang mengenang nikmat-nikmat Allah yang diberikan padanya, maka orang tersebut mengamalkan perintah Allah di dalam ayat ini. Merayakan Maulid Rasulullah adalah salah satu cara mengenang nikmat Allah yang terbesar.
Makna “hari-hari Allah” bisa dipahami dengan merujuk kepada :
- Tafsir Al Kasyaf Juz 3 hal. 519
- Tafsir Durul Mantsur Juz 5 hal. 6
- Tafsir Kabir Juz 10 hal. 90
- Jamiul Kabir Li Ahkamil Qur’an Juz 5 hal. 240
3. Maryam (QS19:15)
وَسَلَامٌ عَلَيْهِ يَوْمَ وُلِدَ وَيَوْمَ يَمُوتُ وَيَوْمَ يُبْعَثُ حَيًّا
“Kesejahteraan atas dirinya pada hari ia dilahirkan dan pada hari ia meninggal dan pada hari ia dibangkitkan kembali”
Hari kelahiran di dalam kehidupan para Nabi as termasuk hari yang penting dan diberkahi. Allah SWT telah memberikan salam kepada Nabi Yahya as di hari kelahirannya. Kita semua berkeyakinan bahwa Rasulullah SAW paling mulia di antara para Nabi dan Rasul, maka wajib hari kelahirannya lebih mulia dari hari-hari kelahiran para Nabi dan Rasul yang lain.
Allah SWT berfirman dalam Al Ahzab (QS33:6)
النَّبِيُّ أَوْلَىٰ بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ
“Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mu’min dari diri mereka sendiri …”
Jika seorang mu’min mengutaman dirinya atau orang lain dan tidak mengutamakan Rasulullah SAW di atas mereka, maka orang tersebut tidak dapat dikelompokkan sebagai orang yang beriman, sebagaimana dapat kita lihat pada ayat di atas dan juga diperkuat dengan hadis dari Sahih Muslim Jilid 3 halaman 183 berikut:
“Tidak beriman seorang di antara kalian sehingga aku lebih dicintai (diutamakan) dari dirinya sendiri, hartanya, dan keluarganya serta seluruh manusia”
Hadis diatas juga terdapat pada:
- Sunan Nasa’i Juz 7 hal. 119
- Sahih Bukhari Juz 1 hal. 12
Merayakan Maulid Rasul SAW adalah salah satu cara mengutamakan dan memuliakan seorang manusia yang telah diberi keutamaan oleh Allah SWT di atas semua makhluk-Nya. Sesuatu dapat dikatakan bid’ah apabila tidak memiliki dalil atau nash dalam Al Qur’an dan hadis. Jika hal tersebut memiliki dalil atau nash di dalam Al Qur’an dan hadis maka hal tersebut bukanlah bid’ah bahkan ia adalah sunnah.
Ayat-ayat Al Qur’an dan hadis-hadis di atas adalah merupakan dalil atas wajibnya memuliakan Rasulullah SAW serta mengutamakan Rasulullah SAW di atas diri kita sendiri, harta, keluarga, serta semua manusia yang merupakan tanda keimanan seseorang. Dengan kata lain merayakan Maulid Nabi SAW adalah salah satu tanda bagi seseorang untuk dapat digolongkan sebagai seorang mu’min.   Dalam memahami dalil atau nash tidaklah selalu harus kaku kata demi kata. Tetapi kita mesti memahami nash atau dalil sebagai “ashlun” (asli/akar) dari suatu amal perbuatan yang berhubungan dengan keagamaan.
Dengan demikian mengadakan Maulid Nabi SAW adalah sunnah hasanah. Pada zaman Nabi SAW, para sahabat memiliki cara sendiri dalam memuliakan Nabi, seperti :
- menyimpan rambut Nabi SAW untuk mengambil keberkahan (Sahih Bukhari Juz 3 halaman 95)
- meminum air sisa wudhu Nabi SAW (Fathul Bari Juz 1 hal. 395)
Cara memuliakan seperti yang dilakukan para sahabat tersebut dapat dikatakan mustahil untuk kita lakukan dikarenakan ketiadaan sosok (basyar) Rasulullah SAW di zaman kita, sehingga dengan mengadakan perayaan Maulid sebagai salah satu cara kita di zaman ini untuk memuliakan beliau SAW. Adapun orang yang mengadakan Maulid dengan cara membaca Maulid barjanji, Maulid Habsyi, Maulid Diba’ atau melantunkan jenis-jenis shalawat adalah merupakan cara-cara dalam tujuan yang sangat jelas untuk memuliakan Rasulullah SAW dan merupakan ungkapan kecintaan kepada Rasulullah SAW. Sesuatu yang baru, yang tidak terdapat pada zaman Rasulullah SAW, yang berhubungan dengan keagamaan tidaklah selalu dikatakan sebagai bid’ah. Jika sesuatu tersebut memiliki “ashlun” maka sesuatu tersebut adalah sunnah hasanah.
Peringatan maulid Nabi SAW merupakan bentuk dari ekspresi kecintaan kita kepada Nabi SAW dan juga sebagai salah satu bukti bahwa kita memuliakan beliau SAW, dan juga washilah dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT, sebagaimana firman Allah SWT dalam surah Al Maidah (QS5:35)
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.”
Dalam kitab: 'Alimu Awladakum Mahabbata Ahli Baitin Nabiy dijelaskan bahwa yang tergolong ahlul-bait adalah Sayyidatuna Fathimah, Sayyidina Ali, Sayyidina Hasan dan Sayyinina Husain radhiyallahu 'anhum.
Begitu pula istri-istri Nabi merupakan keluarga Nabi berdasarkan keumuman ayat Al-Qur'an, serta manthuq (arti tersurat) hadits yang menerangkan tentang anjuran membaca shalawat kepada Nabi, istri dan keluarga beliau. Yakni firman Allah SWT “Nabi itu lebih utama bagi orang mukmin daripada diri mereka sendiri. Dan Istri-istri Nabi adalah ibu mereka.” (QS. al-Ahzab: 6)
Sedangkan sahabat Nabi adalah orang yang pernah bertemu Nabi Muhammad SAW ketika beliau masih hidup walaupun sebentar, dalam keadaan beriman dan mati dengan tetap membawa iman. (Al-Asalib al-Badi'ah, hal 457).
Dalam keyakinan Ahlussunnah wal Jama'ah (Aswaja), mencintai keluarga dan sahabat Nabi SAW, sekaligus memberikan penghormatan khusus kepada mereka merupakan suatu keharusan. Ada beberapa alasan yang mendasari hal tersebut.
Pertama, mereka adalah generasi terbaik Islam, menjadi saksi mata dan pelaku perjuangan Islam. Bersama Rasulullah SAW menegakkan agama Allah SWT di muka bumi. Mengorbankan harta bahkan nyawa untuk kejayaan Islam. Allah SWT meridhai mereka serta menjanjikan kebahagiaan di surga yang kekal dan abadi Firman Allah SWT:
وَقَرْ‌نَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّ‌جْنَ تَبَرُّ‌جَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَىٰ ۖ وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّـهَ وَرَ‌سُولَهُ ۚ إِنَّمَا يُرِ‌يدُ اللَّـهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ الرِّ‌جْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَ‌كُمْ تَطْهِيرً‌ا
”Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kemu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ta’atilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilanghkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS al-Ahzab: 33)
وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِ‌ينَ وَالْأَنصَارِ‌ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّ‌ضِيَ اللَّـهُ عَنْهُمْ وَرَ‌ضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِ‌ي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ‌ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
”Orang-orang terdahulu lagi yang pertama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS at-Taubah : 100)
Kedua, Rasulullah SAW sangat mencintai keluarga dan sahabatnya. Dalam banyak kesempatan, Rasulullah selalu memuji para keluarga dan sahabatnya, melarang umatnya untuk menghina mereka. Beliau bersabda:
عن أبي سَعِيْد الخُذْرِي قال رسول الله صلى الله عليه وسلم إنَّنِيْ تَارِكٌ فِيْكُمُ الثَّقَلَيْنِ كِتَابَ اللهِ وَعِتْرَتِي أهْلُ بَيْتِيْ. رواه الترمذي
Dari Abi Said al-Khudri ia berkata, Rasululla SAW bersabda, ”Sesungguhnya aku tinggalkan untuk kalian dua wasiat, Kitabullah Al-Qur’an dan keluargaku.” (HR at-Tirmidzi)
Dari Abu Hurairah RA berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah kalian mencaci para sahabat, janganlah kalian mencaci sahabatku! Demi Dzat Yang Menguasaiku, andaikata salah satu diantara kalian menafkahkan emas sebesar gunung Uhud, maka (pahala nafkah itu) tidak akan menyamai (pahala) satu mud atau setengahnya dari (nafkah) mereka.” (HR Muslim).
Dari sinilah, mencintai keluarga dan sahabat Nabi adalah mengikuti teladan Rasulullah SAW yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari mencintai Nabi SAW.
Ketiga, tuntunan dan teladan ini juga diberikan oleh keluarga dan sahabat Rasul sendiri. Di antara mereka terdapat rasa cinta yang mendalam, antara satu dengan lainnya saling menghargai dan menghormati. Hal ini dibuktikan dari ungkapan-ungkapan mereka:
1.  Dari Aisyah RA, Abu Bakar berkata, “Sungguh kerabat Rasulullah SAW lebih aku cintai daripada kerabatku sendiri." (HR. al-Bukhari)
2. Dari Ibnu Umar RA dari Abi Bakar RA, beliau berkata, “Perhatikanlah Nabi Muhammad SAW pada ahlul-baitnya." (HR al-Bukhari).
3. Dari Wahab al-Suwa'i, ia berkata, “Sayyidina Ali pernah berkhutbah kepada kami. Beliau bertanya , 'Siapa orang yang paling mulia setelah Nabi Muhammad SAW?' Aku menjawab, 'Engkau wahai Amirul Mukminin.' Sayyidina Ali berkomentar, 'Tidak, hamba yang paling mulia setelah nabi-Nya adalah Abu Bakar, kemudian Umar.'" (As-Syafi Juz II hal 428).
4. Ketika sahabat Umar dimandikan dan dikafani Sayyidina Ali masuk, lalu berkata, “Tidak ada di atas bumi ini seorangpun yang lebih aku sukai untuk bertemu Allah SWT dengan membawa buku catatan selain dari yang terbentang di tengah-tengah kalian ini (yakni jenazah Sayyidina Umar). " (Ma'ani al-Akhbar, hal 117)
5. Dari 33 putra Sayyidina Ali tiga di antaranya diberi nama Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Dari 14 putra Sayyidina Hasan dua dua di antaranya diberi nama Abu Bakar dan Umar, dan di antara 9 putra Sayyidina Husain dua di antaranya diberi nama Abu Bakar dan Umar. Pemberian nama ini tentu soja dipilih dari nama orang-orang yang metjadi idolanya, dan tidak mungkin diambil dari nama musuhnya. (Al-Hujaj al-Qathiyyah, hal 195).
6. Bagi Ahlussunnah Sayyidina Ali adalah seorang imam yang mulia dan harus  dijadikan panutan. Sayyidina Ali adalah seorang pemberani dan sekali-kali bukanlah seorang pengecut Sebagai pemimpin pasukan, di antara sekian banyak peperanngan yang dilakukan pada zaman Rasul SAW, beliau selalu menjadi pahlawan yang tak terkalahkan. Karena itu tidak mungkin beliau bersikap penakut dan pura-pura atau taqiyah apalagi mengajarkannya.



0 komentar:

Posting Komentar