MAKALAH
ASWAJA
Cara
Menghormati Nabi dan Keluarganya
Oleh
:
Dyah
Arinatus Safifah
Elva
Rohmatin Neysa
Eva
Nur Habibah
Fina
Nahdiyya
Harum
Dzati Fitriyah
XI
IPA 3
Pembimbing
:
M.
Ishom Ahmadi

KEMENTERIAN
AGAMA REPUBLIK INDONESIA
MAN
TAMBAKBERAS JOMBANG
Cara Menghormati Nabi dan Keluarganya
Setiap muslim diperintahkan
oleh Allah SWT untuk menghormati, mengagungkan, mencintai dan memuliakan
Rasulullah SAW.
Hal-hal tersebut terdapat di dalam Al Qur’an,
antara lain
1. Al Araf (QS 7:157)
فَالَّذِينَ آمَنُوا بِهِ
وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِي أُنْزِلَ مَعَهُ ۙ
أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“… Maka orang-orang yang beriman kepadanya,
memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan
bersamanya (Al Qur’an), mereka itulan orang-orang yang beruntung.”
Kata-kata dalam ayat ini
bermakna memuliakannya (Rasul SAW), maka salah satu cara untuk memuliakan Rasul
SAW adalah mengadakan peringatan Maulid.
2. Ibrahim (QS14:5)
وَذَكِّرْهُمْ بِأَيَّامِ
اللَّ
“… dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari
Allah …”
Di dalam ayat ini Allah
memerintahkan Nabi Musa as untuk mengingatkan kaumnya dengan “hari-hari Allah”.
Yang dimaksud dengan “hari-hari Allah” bukan berkenaan dengan zaman atau masa,
tetapi yang dimaksud adalah mengingat peristiwa yang besar dimasa lalu, karena
kata “hari-hari” menerangkan keadaan dari kejadian-kejadian tersebut, baik itu
hari kenikmatan atau hari bencana.
Jika seseorang mengenang
nikmat-nikmat Allah yang diberikan padanya, maka orang tersebut mengamalkan
perintah Allah di dalam ayat ini. Merayakan Maulid Rasulullah adalah salah satu
cara mengenang nikmat Allah yang terbesar.
Makna “hari-hari Allah” bisa dipahami dengan
merujuk kepada :
- Tafsir Al Kasyaf Juz 3 hal. 519
- Tafsir Durul Mantsur Juz 5 hal. 6
- Tafsir Kabir Juz 10 hal. 90
- Jamiul Kabir Li Ahkamil Qur’an Juz 5 hal. 240
3. Maryam (QS19:15)
وَسَلَامٌ عَلَيْهِ
يَوْمَ وُلِدَ وَيَوْمَ يَمُوتُ وَيَوْمَ يُبْعَثُ حَيًّا
“Kesejahteraan atas dirinya pada hari ia
dilahirkan dan pada hari ia meninggal dan pada hari ia dibangkitkan kembali”
Hari kelahiran di dalam
kehidupan para Nabi as termasuk hari yang penting dan diberkahi. Allah SWT
telah memberikan salam kepada Nabi Yahya as di hari kelahirannya. Kita semua
berkeyakinan bahwa Rasulullah SAW paling mulia di antara para Nabi dan Rasul,
maka wajib hari kelahirannya lebih mulia dari hari-hari kelahiran para Nabi dan
Rasul yang lain.
Allah SWT berfirman dalam Al Ahzab (QS33:6)
النَّبِيُّ أَوْلَىٰ
بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ
“Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi
orang-orang mu’min dari diri mereka sendiri …”
Jika seorang mu’min mengutaman
dirinya atau orang lain dan tidak mengutamakan Rasulullah SAW di atas mereka,
maka orang tersebut tidak dapat dikelompokkan sebagai orang yang beriman,
sebagaimana dapat kita lihat pada ayat di atas dan juga diperkuat dengan hadis
dari Sahih Muslim Jilid 3 halaman 183 berikut:
“Tidak beriman seorang di antara kalian
sehingga aku lebih dicintai (diutamakan) dari dirinya sendiri, hartanya, dan
keluarganya serta seluruh manusia”
Hadis diatas juga terdapat pada:
- Sunan Nasa’i Juz 7 hal. 119
- Sahih Bukhari Juz 1 hal. 12
Merayakan Maulid Rasul SAW
adalah salah satu cara mengutamakan dan memuliakan seorang manusia yang telah
diberi keutamaan oleh Allah SWT di atas semua makhluk-Nya. Sesuatu dapat
dikatakan bid’ah apabila tidak memiliki dalil atau nash dalam Al Qur’an dan
hadis. Jika hal tersebut memiliki dalil atau nash di dalam Al Qur’an dan hadis
maka hal tersebut bukanlah bid’ah bahkan ia adalah sunnah.
Ayat-ayat Al Qur’an dan
hadis-hadis di atas adalah merupakan dalil atas wajibnya memuliakan Rasulullah
SAW serta mengutamakan Rasulullah SAW di atas diri kita sendiri, harta,
keluarga, serta semua manusia yang merupakan tanda keimanan seseorang. Dengan kata
lain merayakan Maulid Nabi SAW adalah salah satu tanda bagi seseorang untuk
dapat digolongkan sebagai seorang mu’min.
Dalam memahami dalil atau nash tidaklah selalu harus kaku kata demi
kata. Tetapi kita mesti memahami nash atau dalil sebagai “ashlun” (asli/akar)
dari suatu amal perbuatan yang berhubungan dengan keagamaan.
Dengan demikian mengadakan Maulid
Nabi SAW adalah sunnah hasanah. Pada zaman Nabi SAW, para sahabat memiliki cara
sendiri dalam memuliakan Nabi, seperti :
- menyimpan rambut Nabi SAW untuk mengambil
keberkahan (Sahih Bukhari Juz 3 halaman 95)
- meminum air sisa wudhu Nabi SAW (Fathul Bari
Juz 1 hal. 395)
Cara memuliakan seperti yang
dilakukan para sahabat tersebut dapat dikatakan mustahil untuk kita lakukan
dikarenakan ketiadaan sosok (basyar) Rasulullah SAW di zaman kita, sehingga
dengan mengadakan perayaan Maulid sebagai salah satu cara kita di zaman ini
untuk memuliakan beliau SAW. Adapun orang yang mengadakan Maulid dengan cara
membaca Maulid barjanji, Maulid Habsyi, Maulid Diba’ atau melantunkan
jenis-jenis shalawat adalah merupakan cara-cara dalam tujuan yang sangat jelas
untuk memuliakan Rasulullah SAW dan merupakan ungkapan kecintaan kepada
Rasulullah SAW. Sesuatu yang baru, yang tidak terdapat pada zaman Rasulullah
SAW, yang berhubungan dengan keagamaan tidaklah selalu dikatakan sebagai
bid’ah. Jika sesuatu tersebut memiliki “ashlun” maka sesuatu tersebut adalah
sunnah hasanah.
Peringatan maulid Nabi SAW
merupakan bentuk dari ekspresi kecintaan kita kepada Nabi SAW dan juga sebagai
salah satu bukti bahwa kita memuliakan beliau SAW, dan juga washilah dalam
mendekatkan diri kepada Allah SWT, sebagaimana firman Allah SWT dalam surah Al
Maidah (QS5:35)
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ
آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي
سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah
kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan
berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.”
Dalam kitab: 'Alimu Awladakum Mahabbata Ahli Baitin Nabiy
dijelaskan bahwa yang tergolong ahlul-bait adalah Sayyidatuna Fathimah,
Sayyidina Ali, Sayyidina Hasan dan Sayyinina Husain radhiyallahu 'anhum.
Begitu pula istri-istri Nabi merupakan keluarga Nabi
berdasarkan keumuman ayat Al-Qur'an, serta manthuq (arti tersurat) hadits yang
menerangkan tentang anjuran membaca shalawat kepada Nabi, istri dan keluarga
beliau. Yakni firman Allah SWT “Nabi itu lebih utama bagi orang mukmin daripada
diri mereka sendiri. Dan Istri-istri Nabi adalah ibu mereka.” (QS. al-Ahzab: 6)
Sedangkan sahabat Nabi adalah orang yang pernah bertemu Nabi
Muhammad SAW ketika beliau masih hidup walaupun sebentar, dalam keadaan beriman
dan mati dengan tetap membawa iman. (Al-Asalib al-Badi'ah, hal 457).
Dalam keyakinan Ahlussunnah wal Jama'ah (Aswaja),
mencintai keluarga dan sahabat Nabi SAW, sekaligus memberikan penghormatan
khusus kepada mereka merupakan suatu keharusan. Ada beberapa alasan yang
mendasari hal tersebut.
Pertama,
mereka adalah generasi terbaik Islam, menjadi saksi mata dan pelaku perjuangan
Islam. Bersama Rasulullah SAW menegakkan agama Allah SWT di muka bumi.
Mengorbankan harta bahkan nyawa untuk kejayaan Islam. Allah SWT meridhai mereka
serta menjanjikan kebahagiaan di surga yang kekal dan abadi Firman Allah SWT:
وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ
الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَىٰ ۖ وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآتِينَ الزَّكَاةَ
وَأَطِعْنَ اللَّـهَ وَرَسُولَهُ ۚ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّـهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ
الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا
”Dan
hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kemu berhias dan bertingkah laku
seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah
zakat dan ta’atilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak
menghilanghkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu
sebersih-bersihnya.” (QS al-Ahzab: 33)
وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ
وَالْأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللَّـهُ عَنْهُمْ
وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ
خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
”Orang-orang
terdahulu lagi yang pertama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan
anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada
mereka dan mereka pun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka
surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya
selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS at-Taubah : 100)
Kedua,
Rasulullah SAW sangat mencintai keluarga dan sahabatnya. Dalam banyak
kesempatan, Rasulullah selalu memuji para keluarga dan sahabatnya, melarang
umatnya untuk menghina mereka. Beliau bersabda:
عن أبي سَعِيْد الخُذْرِي قال رسول الله صلى الله عليه وسلم
إنَّنِيْ تَارِكٌ فِيْكُمُ الثَّقَلَيْنِ كِتَابَ اللهِ وَعِتْرَتِي أهْلُ
بَيْتِيْ. رواه الترمذي
Dari
Abi Said al-Khudri ia berkata, Rasululla SAW bersabda, ”Sesungguhnya aku
tinggalkan untuk kalian dua wasiat, Kitabullah Al-Qur’an dan keluargaku.” (HR
at-Tirmidzi)
Dari Abu Hurairah RA berkata, Rasulullah SAW bersabda,
“Janganlah kalian mencaci para sahabat, janganlah kalian mencaci sahabatku!
Demi Dzat Yang Menguasaiku, andaikata salah satu diantara kalian menafkahkan
emas sebesar gunung Uhud, maka (pahala nafkah itu) tidak akan menyamai (pahala)
satu mud atau setengahnya dari (nafkah) mereka.” (HR Muslim).
Dari sinilah, mencintai keluarga dan sahabat Nabi adalah
mengikuti teladan Rasulullah SAW yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan
dari mencintai Nabi SAW.
Ketiga,
tuntunan dan teladan ini juga diberikan oleh keluarga dan sahabat Rasul
sendiri. Di antara mereka terdapat rasa cinta yang mendalam, antara satu dengan
lainnya saling menghargai dan menghormati. Hal ini dibuktikan dari
ungkapan-ungkapan mereka:
1. Dari Aisyah RA, Abu Bakar berkata, “Sungguh kerabat
Rasulullah SAW lebih aku cintai daripada kerabatku sendiri." (HR.
al-Bukhari)
2. Dari Ibnu Umar RA dari Abi Bakar RA, beliau berkata,
“Perhatikanlah Nabi Muhammad SAW pada ahlul-baitnya." (HR
al-Bukhari).
3. Dari Wahab al-Suwa'i, ia berkata, “Sayyidina Ali pernah
berkhutbah kepada kami. Beliau bertanya , 'Siapa orang yang paling mulia
setelah Nabi Muhammad SAW?' Aku menjawab, 'Engkau wahai Amirul Mukminin.'
Sayyidina Ali berkomentar, 'Tidak, hamba yang paling mulia setelah nabi-Nya
adalah Abu Bakar, kemudian Umar.'" (As-Syafi Juz II hal 428).
4. Ketika sahabat Umar dimandikan dan dikafani Sayyidina Ali
masuk, lalu berkata, “Tidak ada di atas bumi ini seorangpun yang lebih aku
sukai untuk bertemu Allah SWT dengan membawa buku catatan selain dari yang
terbentang di tengah-tengah kalian ini (yakni jenazah Sayyidina Umar). " (Ma'ani
al-Akhbar, hal 117)
5. Dari 33 putra Sayyidina Ali tiga di antaranya diberi nama
Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Dari 14 putra Sayyidina Hasan dua dua di antaranya
diberi nama Abu Bakar dan Umar, dan di antara 9 putra Sayyidina Husain dua di
antaranya diberi nama Abu Bakar dan Umar. Pemberian nama ini tentu soja dipilih
dari nama orang-orang yang metjadi idolanya, dan tidak mungkin diambil dari
nama musuhnya. (Al-Hujaj al-Qathiyyah, hal 195).
6. Bagi Ahlussunnah Sayyidina Ali adalah seorang imam yang
mulia dan harus dijadikan panutan. Sayyidina Ali adalah seorang pemberani
dan sekali-kali bukanlah seorang pengecut Sebagai pemimpin pasukan, di antara
sekian banyak peperanngan yang dilakukan pada zaman Rasul SAW, beliau selalu
menjadi pahlawan yang tak terkalahkan. Karena itu tidak mungkin beliau bersikap
penakut dan pura-pura atau taqiyah apalagi mengajarkannya.










